Dalam salah satu acara di 2nd Indonesia Sharia Expo, ust Yusuf Mansur bercerita suatu cerita yang cukupsederhana namun sangat penuh arti dalam menuntun kita untuk selalu bermuamalah yang baik. Beliau bercerita suatu konsep mendasar tentang hubungan antar manusia yang didasari pada hubungan Illahiyah.
Kurang lebih beliau bertutur, “Jika kalo ada seorang anak yang dimasukkan oleh ortu nya ke pesantren adalah wajar jika seluruh ibadah dan aktivitas belajar yang dilakukan anak tsb pahalanya akan juga mengalir kepada ortunya. Tp menjadi sangat aneh jika orang lain juga mendapatkan pahala tersebut juga dan ini bisa…kok bisa ya?”
Ada kisah kedua, “Ada orang yang berbuat maksiat, sebut saja si A, sudah sepantasnya yang berbuat mendapatkan ganjaran dosa. Tetapi ada orang lain, sebut saja si B, yang tidak tau menahu perbuatan maksiat yang dilakukan si A, tetap diganjar dosa seperti yang dilakukan si A. lho….kok bisa?”
Dua kejadian di atas sangat kontras, dan ternyata memang ada hubungannya. Kenapa? kisah pertama ternyata orang yang mendapatkan pahala td adalah orang yang menabung dananya di bank syariah dimana bank syariah menyalurkan dana tersebut yang dipakai oleh orang tua si anak sebagai modal usaha sehingga ortu tsb bisa menyekolahkan si anak di pesantren.
Namun pada cerita kedua, Si B menabung di bank konvensional dimana bank konvensional tsb tidak melihat apakah usaha yang diberikan bantuan modal halal atw haram, semuanya bercampur. Nah dana yang disimpan si B di bank konvensional sebagian atau seluruh dana tsb disalurkan ke usaha-usaha yang haram yang dimiliki si A, akhirnya si B juga menerima seluruh dosa yang dilakukan si A.
Konsep yang sangat bagus dan sederhana bukan? Marilah mulai sekarang pindahkan tabungan kita semua ke bank syariah atw koperasi syariah atw BMT atw jadilah pengusaha yang menjalankan usaha yang halal atw jd lah pemodal dari usaha orang lain dengan cara yang halal dan baik.